angka kemiskinan malut september 2025
Infografis angka kemiskinan masyarakat desa di Provinsi Maluku Utara Tahun per September 2025.

Berkurang 2,24 ribu, Jumlah Penduduk Miskin di Desa Turun 5,54 persen

Persentase penduduk miskin perdesaan pada September 2025 turun pada angka 5,54 persen. Lima faktor beri pengaruh pada tingkat kemiskinan selama periode Maret-September 2025.

Ternate, SALOI.ID

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara (Malut) mencatat persentase penduduk miskin di Malut pada September 2025 berada pada level terendah dalam dua dekade terakhir.

Hal ini yang menandakan adanya perbaikan kondisi kesejahteraan masyarakat termasuk warga perdesaan.

Dari data yang dirilis, jumlah penduduk miskin pada September 2025 sebesar 74,81 ribu orang. Angka itu menurun 2,46 ribu orang terhadap Maret 2025 dan 4,88 ribu orang terhadap September 2024.

Sementara itu, persentase penduduk miskin perdesaan pada September 2025 sebesar 5,54 persen, menurun dibandingkan Maret 2025 yang sebesar 5,76 persen.

Dari sisi jumlah di periode yang sama, penduduk miskin di perdesaan berkurang sebanyak 2,24 ribu dari 54,14 ribu orang pada Maret 2025 menjadi 51,90 ribu orang pada September 2025.



Untuk Garis Kemiskinan (GK) pada September 2025 adalah sebesar 692.592 rupiah per kapita per bulan. Dibandingkan Maret 2025, GK naik sebesar 4,56 persen. Sementara jika dibandingkan September 2024, terjadi kenaikan sebesar 8,32 persen.

Baca pula:  Ini Jumlah dan Status Desa Berdasarkan IRID se-Kabupaten Halmahera Selatan

Untuk GK per rumah tangga pada sebesar 4.446.441,00 juta per bulan. Angka ini naik sebesar 15,14 persen dibanding kondisi Maret 2025 yang sebesar 3.861.775 rupiah per bulan yang disebabkan meningkatnya jumlah anggota rumah tangga miskin.

Komoditas makanan turut memberikan sumbangan terbesar pada GK. Secara umumnya, beras masih memberi sumbangan terbesar yakni 31,64 persen bagi warga perdesaan.

Ikan tongkol atau tuna dan cakalang serta rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua dan ketiga terhadap GK masing-masing sebesar 7,75 persen dan 5,34 persen.

Sedangkan komponen bukan makanan yang berkontribusi terhadap GK perdesaan yakni perumahan sebesar 10,96 persen. Bensin dan Listrik menjadi penyumbang terbesar kedua dan ketiga masing-masing sebesar 1,43 persen dan 1,33 persen.



Persoalan kemiskinan bukan hanya sekadar berapa jumlah dan persentase penduduk miskin. Dimensi lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat kedalaman dan keparahan dari kemiskinan.

Indeks kedalaman kemiskinan adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap Garis Kemiskinan.

Sedangkan indeks keparahan kemiskinan memberikan gambaran mengenai penyebaran pengeluaran di antara penduduk miskin.

Baca pula:  Lomba PPD 2025 Dibuka, Kesempatan Pemuda Desa “Unjuk Gigi”

Untuk wilaya perdesaan pada periode Maret 2025-September 2025, kedua indeks ini alami penurunan.

Nilai indeks kedalaman kemiskinan yang sebelumnya di angka 0,860 turun 0,211 poin menjadi sebesar 0,649. Sementara nilai indeks keparahan kemiskinan turun 0,172 dari 0,194 atau turun 0,022 poin.

banner
WhatsApp Channel SALOI.ID