Kabupaten Halut disebut memiliki potensi yang belum dioptimalkan pemanfaatannya termasuk sektor maritim. Banyaknya desa tepi laut di kabupaten ini, disebut dapat mendorong tumbuhnya basis ekonomi maritim.
Ternate, SALOI.ID
Memiliki karakter wilayah yang didominasi desa tepi laut atau pesisir dan potensi maritim, Kabupaten Halmahera Utara (Halut) mestinya unggul dalam basis ekonomi maritim.
Dengan karakter kepulauan yang kuat dengan beragam potensinya, namun pemanfaatan potensi di kabupaten tersebut dikatakan belum optimal.
Dominasi sektor primer yang belum banyak memberi nilai tambah ekonomi, membutuhkan percepatan transformasi guna mendorong pertumbuhan dan nilai tambah ekonomi di Kabupaten Halut.
Hal ini dikatakan kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Maluku Utara (Malut), Dr Muhammad Sarmin S Adam SSTP MSi saat menjadi pemateri dalam Musrenbang RKPD tahun 2027 Kabupaten Halut, Selasa (31/03/2026).
“Dengan dominasi wilayah pesisir dan kekuatan penduduk usia produktif, Halut semestinya memiliki potensi besar sebagai wilayah berbasis ekonomi maritim. Namun memerlukan percepatan transformasi dari sektor primer menuju ekonomi bernilai tambah,” ucap Sarmin.
Selain potensi maritim dan perikanan, ucap Sarmin, dengan keunggulan produksi riil seperti produksi daging sapi unggulan, unggas dan telur serta dan pangan sebagai penopang utama dam komoditas unggulan kelapa dan pala, Halut semestinya harus jadi pusat pertumbuhan.
“Halut dengan pertumbuhan ekonomi yang 3,89 persen atau lebih rendah dibanding daerah berbasis industri dan kawasan tumbuh cepat lainnya, berada pada posisi dan peran dalam menopang ekonomi Maluku Utara melalui basis ekonomi primer,” beber Sarmin.
Menurutnya, sejumlah hal harus menjadi fokus dan prioritas di tahun 2027 meliputi hilirisasi komoditas (pangan, peternakan, perikanan), penguatan konektivitas produksi dan distribusi, serta peningkatan produktivitas dan SDM, termasuk percepatan layanan dasar pendukung ekonomi.
Dari pernyataan diatas, jika ditelusuri, berapakah jumlah keseluruhan desa yang berada di pesisir atau tepi laut di kabupaten dengan slogan “Hibualamo” itu?
Berdasarkan data yang SALOI.ID peroleh dari “Kabupaten Halmahera Utara Dalam Angka Tahun 2026” yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPK) kabupaten tersebut, disebutkan jika 124 dari 196 desa di kabupaten tersebut, memang berada di tepi laut atau pesisir.
Artinya dari total jumlah desa di kabupaten tersebut, 63,27 persen wilayahnya adalah desa-desa yang berada di pesisir atau tepi laut.
Dari jumlah itu sendiri, hanya sebanyak empat dari 17 kecamatan yang tidak memiliki desa tepi laut atau pesisir, yakni Kao Barat, Tobelo Barat, Galela Selatan dan Galela Barat.
Sementara sisanya, sebanyak 13 kecamatan memiliki banyak desa yang sebarannya di tepi laut atau pesisir.
Bahkan terdapat lima kecamatan yang seluruh desanya berada di tepi laut atau pesisir dengan kecamatan yang paling banyak jumlahnya yakni Loloda Utara dengan 18 desa.
Ada pula Kecamatan Galela Utara (12), Kecamatan Tobelo Utara dan Loloda Kepulauan yang sama-sama punya 10 desa, dan Kecamatan Kecamatan Tobelo Timur dengan enam desa.
Selain itu, ada pula kecamatan yang sebagian besar desanya berada di tepi laut seperti Tobelo Selatan (12 desa) dan Malifut (10).
Sementara Kao Utara punya sembilan desa. Lalu Tobelo, Kao dan Kao Teluk yang sama-sama punya delapan desa, serta Tobelo Timur dan Galela dengan enam desa.
Sebagai salah satu sentra utama, Kabupaten Halut juga unggul pada produksi daging sapi sebesar 300.993,74 kilogram karkas dan 235.763,90 kilogram meat yield.
Lalu unggas terutama telur ayam buras dengan produksi 277.866,98 kilogram (tertinggi di provinsi), daging ayam buras sebesar 74.093 kilogram dan telur itik sebesar 33.762,88 kilogram.
Selain itu didukung daging babi dengan produksi sebesar 95.979,38 kilogram yang menunjukkan fokus potensi pada sapi dan unggas.
Dari sisi produksi perikanan tangkap laut di Kabupaten Halut berada di angka 21.200 ton di tahun 2025.
Halut juga didominasi perkebunan kelapa dengan areal kuran lebih 49,3 ribu hektar dengan produksi 73,1 ribu ton pada 2025, didukung komoditas pala yang produksinya mencapai 2.159 ton dan cengkeh kurang lebih sebesar 657 ton yang relatif stabil, namun belum optimal dalam mendorong nilai tambah dan hilirisasi. (fhm)

