Pala, Komoditas Penopang Desa Wailoa yang (masih) “Jauh dari Sentuhan”

pala desa wailoa
Buah pala yang jadi salah satu komoditas andalan warga desa Wailoa, Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan. (Foto: Rudi Ruhiat)

Pala masih jadi komoditas tumpuan utama perekonomian sebagian warga asli Pulau Makian, salah satunya Desa Wailoa. Tanaman rempah khas ini telah lama jadi sumber penghidupan petani di secara turun temurun, yang masih belum dikelola secara maksimal.

Ternate, SALOI.ID

Wailoa, salah satu desa di Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), memiliki potensi perkebunan unggulan. Salah satu komoditas yang terus menopang perekonomian masyarakat setempat yakni pala. Hingga kini, sebagian besar warga Desa Wailoa masih menggantungkan hidup dari hasil kebun pala yang dikelola secara turun-temurun.

Pala tidak hanya menjadi komoditas utama desa tetapi juga sumber penghasilan penting bagi keluarga petani untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Mulai dari kebutuhan pangan, biaya sekolah dan pendidikan anak hingga keperluan rumah tangga, seluruhnya sangat bergantung pada hasil panen pala.

Salah satu petani pala Desa Wailoa, Sardi mengungkapkan, di tempatnya, pala dijual dalam dua bentuk yakni mentah dan kering. Toh, harganya di kalangan petani masih cenderung fluktuatif.

“Kalau pala mentah, empat biji dijual seribu rupiah. Kalau per kilogramnya dijual sekitar 40 ribu rupiah. Untuk pala kering, harganya sekitar 70 ribu rupiah per kilogram di tingkat petani,” ujar Sardi saat ditemui SALOI.ID di kebunnya, Sabtu (31/01/2026).

Baca pula:  Ini Status IDM 2024 setiap Kecamatan di Kabupaten Halmahera Selatan

Menurutnya, pala kering memiliki nilai jual lebih tinggi karena proses pengeringannya membutuhkan waktu, tenaga serta kondisi cuaca yang mendukung.

Namun, tidak semua petani mampu menunggu proses tersebut dimana jika ada kebutuhan mendesak biasanya langsung dijual mentah.

“Tapi kalau ada waktu dan cuaca bagus, kami keringkan dulu supaya harganya lebih baik,” jelasnya.

Meski memberikan kontribusi besar bagi ekonomi warga, Sardi berharap adanya perhatian lebih dari pemerintah daerah.

“Khususnya terkait pengembangan industri pala dan stabilitas harga. Industri kelapa saja ada, masa industri pala tidak. Padahal pala ini jadi sumber hidup kami,” keluhnya.

Petani pala Desa Wailoa, Kecamatan Pulau Makian, Kabupaten Halmahera Selatan. (Foto: Rudi Ruhiat)

Sementara itu, Ruhiat, salah satu pembeli pala yang kerap menampung hasil panen petani Wailoa, menyebutkan bahwa harga pala di tingkat pasar khususnya di Kota Ternate, jauh lebih tinggi dibandingkan harga di desa.

“Di Ternate, pala kering bisa diambil dengan harga sekitar 85 ribu rupiah per kilogram. Selisih harga ini dipengaruhi biaya transportasi dan proses distribusi,” ungkap Ruhiat.

Baca pula:  Ini Status Kemandirian dan Kemajuan Desa Tahun 2025 se-Provinsi Malut

Ia menilai, kualitas pala asal Desa Wailoa tergolong baik dan memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar yang lebih luas.

Namun, hal tersebut membutuhkan dukungan dari sisi akses transportasi, tata niaga serta kebijakan yang lebih berpihak pada petani.

Secara keseluruhan, potensi pala di Desa Wailoa dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan.

Diketahui, selain biji dan fuli (bunga pala), daging buah pala diolah menjadi produk bernilai tambah seperti manisan, sirup dan selai. Belum lagi minyak pala yang cukup berkhasiat untuk bagi kesehatan.

Selain sebagai komoditas unggulan daerah, pala juga menjadi bagian penting dari identitas lokal dan keberlanjutan ekonomi masyarakat Pulau Makian.

“Dengan dukungan kebijakan yang tepat, pala berpeluang menjadi motor penggerak ekonomi desa yang lebih kuat dan berkelanjutan,” pungkasnya menutup.

Dari mereka, mungkin terkirim pesan jelas jika pala tidak hanya menjadi andalan ekonomi bagi masyarakat namun menyimpan potensi besar dalam meningkatkan kesejahteraan petani lokal.

Dengan dukungan infrastruktur penunjang (transportasi), pasar, harga yang stabil dan kreatifitas serta inovasi dalam mengolah, pala tetap tumbuh jadi unggulan yang bernilai tinggi bagi perekonomian masyarakat. (rud/fm)


Naskah & Foto: Rudi Ruhiat
Penyunting: Fahmi Dj

banner
WhatsApp Channel SALOI.ID